BalangBlogger

Just another Blogdetik.com weblog

Pengalaman Tiga Kali Kecelakaan Lalu Lintas

Posted by musliminbeta on 9 Desember 2011

Kecelakaan sepeda motor (Sumber: berita.assyam.com)

Sebagai pengendara sepeda motor, saya tidak terlalu banyak memiliki pengalaman sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Bahkan selama ini sepanjang ingatan saya, hanya tiga kali saya mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kejatuhan dari sepeda motor. Kecelakaan pertama, ketika masih berusia remaja terjadi di Jeneponto, pengalaman kedua ketika tinggal di Jakarta dalam kecelakaan beruntun antar sepeda motor didepan Mall Ambassador dan ketiga di jalan paccerakkang Makassar ketika seorang penjual ayam yang berada didepan saya tiba-tiba menghentikan sepeda motor ditengah jalan.

Dari ketiga pengalaman kecelakaan tersebut, pengalaman pertama karena ngebut di jalan sepi di sebuah jalan desa di Jeneponto tetapi tiba-tiba muncul segerombol anak-anak yang menyeberang jalan. Untuk menghindari korban jatuh, maka saya menjatuhkan diri dari sepeda motor agar tidak menabrak segerombolan anak-anak tersebut. Seandainya anak-anak tersebut jadi korban, maka saya bisa babak belur dihajar massa di kampung itu. Apalagi saya belum surat izim mengemudi sepeda motor ketika itu karena masih berumur dibawah 17 tahun.

Saya tidak mengalami luka-luka pada kejadian kecelakaan sepihak itu. Namun sepeda motor vespa ringsek dan harus masuk bengkel. Meski ringsek, motor vespa tersebut masih bisa saya kendarai kembali hingga ke rumah dan memasukkannya ke bengkel. Dari kejadian tersebut, saya mengambil pelajaran untuk tidak selalu ngebut meski jalan sedang sepi karena bisa saja mendadak sesuatu yang tidak disangka-sangka menghadang jalan.

Pengalaman kedua yang terjadi di Jakarta ketika itu di pagi hari. Jalanan di depan Mall Ambasador tidak seperti biasanya yang macet, tapi pagi itu sangat lancer. Maka saya kembali tancap gas menuju jalan sudirman. Namun seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba menghentikan kendaraan untuk menghindari seorang pelintas jalan yang akan menyeberang ke Mall Ambasador. Karena saya kurang menyadari situasi, maka saya tidak bisa menghindar dan menabrak sepeda motor didepan saya. Sedangkan sepeda motor dibelakang saya pun demikian, saling bertabrakan menjadi sebuah tabrakan beruntun pagi itu.

Meski tidak mengalami luka-luka, saya agak terkejut dengan kejadian itu. Ketika pengemudi sepeda motor dibelakang saya komplain ke saya, maka saya spontan menyalahkan pengemudi sepeda motor di depan saya. Akhirnya, semua pengendara sepeda motor mengajukan complain pada pengendara paling depan. Dan saya pun melaju kembali tanpa merasa bersalah karena memang saya adalah bagian dari korban tabrakan beruntun.

Pengalaman ketiga, terjadi di jalan Paccerakkang, Daya, Makassar. Lagi-lagi karena ngebut untuk menjemput salah seorang anak saya dirumah dan berniat akan mengantarnya ke sekolah. Namun tanpa saya duga, seorang pengendara sepeda motor yang membawa dagangannya mendadak menghentikan sepeda motornya di tengah jalan tanpa meminggirkan terlebih dahulu. Sayapun spontan langsung menjatuhkan diri agar tidak menabraknya. Pengendara tersebut selamat dari korban sepeda motor saya, namun saya yang apes karena menderita luka lecet pada jari tangan.

Sebagai manusia biasa, saya langsung memarahi pengendara tersebut yang menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Pengendara tersebut beralasan bahwa ada ayam yang tiba-tiba menyeberang dan dia berusaha menghindarinya. Saya pun kesal dengan tindakannya tersebut karena menyebabkan pengedara dibelakangnya menjadi korban. Untungnya pengendara tersebut ikut membantu saya sehingga kemarahan saya pun perlahan reda dan juga dia meminta maaf atas kelakuannya.

Hikmah Dari Pengalaman

Sebenarnya saya relatif beruntun, selama saya berkendara sepeda motor dalam usia 37 tahun hanya tiga kali mengalami kecelakaan lalu lintas. Ketika saya tanyakan kepada seorang keponakan saya yang sedang berstatus mahasiswa, sudah berapa kali mengalami kecelakaan dan jatuh dari sepeda motor? Jawabnya, sudah tidak bisa dihitung.

Dari tiga kali pengalaman tersebut, dua kali kecelakaan karena kesalahan pihak lain sedang sisanya karena kesalahan sendiri. Meski saya akui, ketiga pengalaman kecelakaan disebabkan karena perilaku ngebut yang ingin segera sampai ke tempat tujuan. Dari ketiga kejadian itu pula, saya selalu mengenakan helm standar sehingga kepala saya terhindar dari benturan benda keras.

Hikmah dari ketiga pengalaman itu membuat saya kini selalu hati-hati dalam berkendara, meski hanya di sekitar lingkungan tempat tinggal. Pada jalan sepi sekalipun, tiap kali saya berbelok selalu menyalakan lampu spion untuk berbelok kiri atau kanan untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba muncul kendaraan didepan atau dibelakang sepeda motor saya.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , | No Comments »

Eksperiman Yang Menyakitkan

Posted by musliminbeta on 8 Oktober 2011

Eksperimen ini bukan untuk tujuan pengembangan teori  baru atau penelitian ilmiah. Eksperimen saya kali ini hanya urusan dapur. Kamis kemarin (06/10/2011) saya hendak berbuka puasa dengan masakan sendiri berupa bubur kacang ijo. Sebelumnya, saya belum pernah memasak bubur seperti itu. Maka saya bereksperimen sendiri sambil mengingat tips dari istri yang sedang berada di seberang lautan.

Eksperiman dimulai pada siang hari, ketika saya merebus kacang ijo di panci dengan air sambil mendidih. Setelah mendidih lalu saya taruh gula merah Jeneponto. Setelah itu saya tinggalkan dapur untuk beraktifitas di tempat lain. Sore hari kembali saya menengok masakan bubur kacang ijo hasil eksperimen yang masih berada diatas kompor.  Saya memperhatikan, sepertinya kacangnya masih seperti batu kerikil kecil. Maka kembali saya nyalakan kompor gas dan memasaknya hingga mendidih.

Menjelang maghrib, saya kembali ke dapur untuk menghidangkan bubur kacang ijo hasil eksperimen. Sebelum mencicipinya, saya minta tolong pada Ayu, anak saya untuk mencoba biji kacangnya. Katanya masih keras. Maka lagi-lagi saya kembali nyalakan kompor untuk ketiga kalinya hingga waktu maghrib. Karena keburu berbuka puasa, maka bubur itu tetap saya taroh di piring untuk mencicipnya sebagai menu buka puasa sunah di hari kamis.

Alangkah sialnya, butiran kacang ijo yang meluncur ke mulut saya masih terasa keras. Padahal sudah tiga kali melalui proses pendidihan diatas kompor. Jadinya berbuka puasa ibarat makan kerikil kecil yang dipaksa ditelan ke dalam perut. Sungguh menu buka puasa yang aneh dengan bubur kacang ijo setengah matang.

Tengah malam, hasil eksperimen itu betul-betul terasa menyakitkan. Perut saya tiba-tiba mulas memaksa saya harus bangun dari tidur dan segera ke kamar mandi untuk buang air besar. Saya merasakan hasil eksperimen yang menyiksa badan karena tidak bisa tertidur dalam waktu beberapa lama. Hanya sebuah balsem sebagai penyelamat malam itu hingga saya kembali bisa tertidur.

Posted in Tak Berkategori | No Comments »

Melawan Arogansi Wilson Lalengke

Posted by musliminbeta on 14 Agustus 2011

Siapa Wilson Lalengke? Mungkin tidak banyak orang tahu atau kenal nama itu. Wilson adalah Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI Nasional) yang berkedudukan di Jakarta. Sehari-hari berkantor di sekretariat Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di Senayan, Jakarta.
Pada hari Ahad kemarin (17/7/2011), Wilson Lalengke menggelar pertemuan silaturahmi dengan orang-orang tak dikenal yang mengatasnamakan anggota PPWI Sulawesi Selatan di Makassar. Misi kedatangannya tidak jelas dan hanya mengatakan “Silaturahmi”. Tempat pertemuannya tidak diketahui secara pasti meski waktunya sekitar pukul 09-10 Wita. Karena ketidakjelasan misi “Silaturahmi” itu, pengurus DPD Sulsel dan DPC Makassar tidak menghadiri pertemuan tersebut.
Namun anehnya, kegiatan silaturahmi menghasilkan putusan organisasi yang akan merestrukturisasi dan merevitalisasi pengurus PPWI DPD SUlawesi Selatan dan DPC PPWI Kota Makassar hanya karena tidak menghadiri pertemuan bertajuk “Silaturahmi” itu. Kontan, ancaman “Restrukturisasi dan revitalisasi” mengundang reaksi dari para pengurus DPD Sulsel dan DPC Makassar. Bahkan ada yang langsung bereaksi keras ingin mundur dari kepengurusan PPWI dan anggota PPWI.
Dari kasus ini, terlihat bahwa Wilson Lalengke belum matang dalam berorganisasi. Tidak ada keputusan sebuah organisasi yang diambil berdasarkan pertemuan “silaturahmi”. Keputusan organisasi harus berdasarkan kegiatan formal seperti Rapat Pengurus atau Musyawarah atau apapun namanya sebagai wadah pengambilan keputusan. Terlihat bahwa Wilson Lalengke hanya ingin memperlihatkan arogansi sebagai Ketua Umum DPN PPWI.
Sikap arogansi dan otoriterisme seorang pemimpin harus dilawan dengan cara apapun, termasuk Wilson Lalengke sebagai Ketua Umum DPN PPWI. Kecuali Wilson meminta maaf pada segenap pengurus DPD dan DPC atas kekeliruannya membuat keputusan organisasi dari hanya pertemuan di warung kopi.
Isu Negatif
Karena kehilangan bahan argumentasi yang logis dari Wilson Lalengke, Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) itu memilih menyebarkan isu negatif kepada Muslimin Beta, Ketua PPWI Sulawesi Selatan. Isu yang disebarkan Wilson Lalengke bahwa Muslimin Beta menerima dana asing dari Polisario. Isu disebarkan melalui Facebook dalam sebuah perbincangan dengan Maulana Data dan juga disebarkan melalui email ke pengurus DPD PPWI Sulawesi Selatan.
Wilson Lalengke mencoba berkelit dengan melakukan penyebaran berita negatif tentang keterlibatan Ketua DPD PPWI Sulsel dengan dana asing, tapi Wilson Lalengke melupakan bahwa justru dirinya yang menerima dana asing dari Kedutaan Besar Kerajaan Maroko di Jakarta. Dana asing Kedubes Maroko mengalir ke kantong Wilson Lalengke ketika PPWI melakukan Lomba Karya Tulis RI-Maroko dan ketika jadi pembicara talkshow on air hari Minggu, 1 Mei 2011 pukul 08.30 pagi. Wilson Lalengke terkena pepatah “Memercik Air Di Dulang, Terpercik Muka Sendiri”.
Terlihat jelas kompetensi seorang Wilson Lalengke yang tidak memiliki pengalaman dalam berorganisasi. Tuntutan DPC PPWI Makassar dan DPD PPWI Sulsel cukup sederhana yang meminta WIlson Lalengke meminta maaf karena telah melakukan penyimpangan organisasi karena mengambil keputusan organisasi melalui pertemuan hanya dari petemuan bertopik “Silaturahmi” bukan melalui rapat pengurus PPWI Nasional. Apakah pengurus DPN PPWI hanya Wilson Lalengke seorang diri sehingga dirinya bebas mengambil keputusan seenak perutnya saja yang akan merestrukturisasi DPC PPWI Makassar dan DPD PPWI Sulsel ?
Fakta ini juga menandakan bahwa Wilson Lalengke yang jebolan sarjana pendidikan dari Riau itu tidak menguasai isu politik internasional tapi cawe-cawe menceburkan diri dari isu Sahara Barat. Wilson Lalengke tidak mengetahui persis bahwa Kerajaan Maroko telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan keputusan Mahkamah Internasional atas pendudukan Sahara Barat sejak tahun 1975. Baca tulisan Udayana Sucitra dari Universitas Paramadina di Kompasiana berjudul Konflik Sahara Barat.
Karena itu, Wilson Lalengke menyadari kompetensinya dalam berorganisasi dan segera melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum DPN PPWI karena tidak cakap dan tidak cukup punya pengalaman dalam mengambil keputusan organisasi. Kepada segenap pengurus DPC dan DPD PPWI seluruh Indonesia agar bersatu menurunkan Wilson Lalengke sebagai Ketua Umum DPN PPWI.
Kehilangan Akal
Sejak mendapat resistensi dari DPC PPWI Makassar dan DPD PPWI Sulawesi Selatan, Wilson Lalengke sang Ketua Umum DPN PPWI tampak mulai kehilangan akal sehat. Wilson Lalengke tidak mampu berkelit dan hanya menghembuskan isu-isu negatif terhadap Muslimin Beta, Ketua DPD PPWI Sulawesi Selatan tanpa argumentasi rasional secara organisatoris yang sepantasnya dari seorang Ketua Umum organisasi berlevel nasional.
Isu terbaru yang dihembuskan Wilson Lalengke adalah Muslimin Beta sudah bukan anggota PPWI sejak November 2009. Isu tersebut dikirimkan melalui email kepada para pengurus DPD PPWI Sulawesi Selatan dan beberapa perbincangan di facebook. Pertanyaan kemudian timbul, bila Muslimin Beta bukan anggota PPWI sejak November 2009, mengapa mengangkatnya menjadi Ketua DPD PPWI SUlawesi Selatan periode 2010-2015 melalui sebuah keputusan resmi organisasi pada bulan April 2010?
Terlihat jelas Wilson Lalengke telah kehabisan akal atau kehilangan akal sehat. Wilson Lalengke bagaikan menjilat ludah sendiri. Wilson Lalengke ingin menyingkirkan Muslimin Beta dengan cara-cara yang tidak sehat padahal justru Wilson Lalengke sendiri yang melakukan kesalahan organisasi. Wilson Lalengke bagaikana “Soeharto kecil” di PPWI yang mencari kesalahan seseorang untuk dilengsertkan, padahal sesungguhnya justru Wilson Lalengke yang harus dilengserkan sebagai Ketua Umum DPN PPWI.
Bila seorang ketua umum sudah kehilangan akal sehat menandakan bahwa kondisi kesehatannya sedang terganggu. Syarat kesehatan adalah syarat mutlak seseorang menjadi ketua umum. Maka Wilson Lalengke sudah sepantasnya mundur dari Ketua Umum PPWI karena kesehatannya terganggu sehingga kehilangan akal sehat alias menderita penyakit gila.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , , | No Comments »

Mengutang Demi Menerbitkan Buku Sendiri

Posted by musliminbeta on 11 Juli 2011

Power of Book benar-benar mempengaruhi pikiran saya hingga kini. Saya masih ingat ketika pada tahun 2000, saya hendak menerbitkan sebuah buku. Naskah buku saya saat itu berasal dari kumpulan karangan dari berbagai sumber media dan beberapa diantaranya pernah saya presentasikan pada berbagai kegiatan kemahasiswaan. Sebagian besar sumber tulisan yang saya bukukan berasal dari surat kabar Pedoman Rakyat, sebuah koran harian lokal Makassar yang terbit sejak 1947 tapi sudah berhenti terbit beberapa tahun yang lalu.

Tahun 2000 adalah tahun ketika saya baru mencari kehidupan baru setelah menyelesaikan studi dan resmi menjadi sarjana di Universitas Hasanuddin, Makassar. Selepas menjadi sarjana ilmu sosial, saya bertekad menjadi seorang intelektual atau tepatnya akademisi yang selalu bergelut dalam dunia ilmu pengetahuan. Karena itu, ada dorongan kuat untuk menerbitkan buku meski berasal dari kumpulan karangan yang tersebar di media massa dan forum-forum kemahasiswaan.

Namun, masalah terbesar dalam menerbitkan sebuah buku adalah ketiadaan penerbit yang bersedia naskah saya yang berasal dari kumpulan karangan. Padahal banyak buku-buku yang saya baca dari para intelektual Indonesia berasal dari hasil kumpulan karangannya. Cuma berbeda dengan kondisi saya, para intelektual tersebut adalah golongan intelektual yang sudah populer seperti Nurkholis Madjid yang menjadi bacaan kesukaan saya, sementara saya hanyalah seorang jebolan baru dari kampus yang nyaris tidak ada yang mengenal.

Masalah tersebut membuat saya memilih menerbitkan buku saya dengan cara memodalinya sendiri. Kala itu, belum ada istilah Penerbitan Indie yakni menerbitkan buku dari modal sendiri. Bahkan kala itu, belum banyak anak muda yang menerbitkan buku sendiri. Terhitung hanya Anas Urbaningrum yang telah melakukan itu meski saya jauh lebih muda dari usia Anar Urbaningrum. Beberapa buku Anas Urbaningrum yang berasal dari kumpulan karangannya menjadi koleksi perpustakaan pribadi saya.

Menerbitkan buku dengan biaya sendiri bukan tanpa kendala. Bahkan kendala terbesarnya adalah pada faktor pembiayaan. Ketika itu, Penerbitan Universitas Hasanuddin (Lephas) bersedia menerbitkan naskah saya dengan catatan saya sendiri yang memodalinya. Maka berbagai ide datang untuk mensiasati aspek pembiayaan buku tersebut. Kebetulan pada saat itu muncul ide untuk meminjam dari sebuah bank perkreditan yakni Baitul Mal Wattamwil Al Markaz Al Islami. Maka untuk memuluskan proses peminjaman, maka saya meminta Prof Dr Anwar Arifin untuk menuliskan Kata Pengantar pada buku pertama saya karena Prof Anwar Arifin adalah sekretaris Yayasan Al Markaz Al Islami. Dan benar saja, BMT Al Markaz langsung menyetujui kredit yang saya ajukan demi memodali penerbitan buku.

Buku itu pun akhirnya terbit dengan judul “Mahasiswa, Reformasi dan Politik: Catatan Dari Kampus Merah” terbitan Hasanuddin University Press dan beredar di Toko Buku Gramedia di Mall Ratu Indah, Makassar dan beberapa toko buku di Kota Makassar. Akibat dari pola marketing yang tidak profesional akhirnya saya tidak sanggup melunasi utang dari hasil kredit di BMT Al Markaz. Namun berkat Power of Book, saya tetap bertekad melunasi utang tersebut dari hasil kerja yang lain diluar dari hasil penjualan buku.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , | 1 Comment »

Lapakers Perlu Peduli Lingkungan

Posted by musliminbeta on 20 Juni 2011

Setelah berolahraga minggu pagi di GOR Sudiang, Makassar, pilihan jatuh pada sarapan pagi. Di sekitar area GOR Sudiang, pada minggu pagi digelar banyak lapak-lapak pedagang kaki lima yang saya sebut Lapakers. Beraneka macam barang dagangan digelar. Namun pilihan kuliner yang lebih dominan, seperti nasi kuning, nasi uduk, bubur ayam, dan bakso.

Saya lebih tertarik dengan lapak baru yang menjual bubur kacang ijo. Apalagi para penjualnya adalah pemuda berjumlah 7 orang dengan tampan keren-keren. Mereka tidak merasa malu berjualan dan nampak menikmati jualannya bersama kawan-kawannya. Lapak bubur kacang ijo baru kali ini saya melihatnya di area GOR Sudiang.

Perlahan saya menghampiri dan menanyakan harganya. Mereka menjualnya dengan harga tiga ribu rupiah dalam satu gelas plastik besar dilengkapi dengan tutupnya. Sendoknya pun terbuat dari bahan plastik dan ditaruh pada bagian tengah penutup gelas plastik yang sudah berlobang. Hanya sekitar tiga perempat isi setiap gelas yang dijajakannya.

Sebenarnya saya bangga dengan ketujuh pemuda tersebut yang tidak malu-malu berjualan. Nampaknya mereka mahasiswa yang sedang mencari dana untuk suatu kegiatan. Begitu kesan saya setelah saya menanyakan ke salah satu anak muda itu. Namun disayangkan, nampaknya ketujuh pemuda itu belum sadar lingkungan karena membiarkan gelas-gelas plastik itu berceceran menjadi sampah setelah isinya berpindah ke perut pelanggannya. Tapi bisa dimaklumi karena mereka baru kali ini kelihatan membuka lapak di area GOR Sudiang.

Posted in Tak Berkategori | No Comments »

Perayaan Maulid Khas Orang Jeneponto

Posted by musliminbeta on 1 Maret 2011

Peringatan Maulid Nabi bagi umat Nabi Muhammad Saw merupakan perayaan penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Peringatan maulid yang umum dilakukan dengan menggelar ceramah agama yang mengangkat hikmah dari peringatan Maulid Nabi.

Berbeda dengan di wilayah selatan jazirah Sulawesi yang banyak didiami etnik Makassar. Peringatan maulid yang disebut Maudu’ menjadi peringatan yang wajib dilakukan pada semua anggota keluarga. Tak jarang keluarga yang bertempat tinggal dari daerah kelahirannya kembali berkumpul dengan sanak keluarga guna memperingati Maulid atau Maudu dengan cara menggelar seremoni tertentu yang disebut A’rate.

A’rate adalah puncak perayaan Maulid atau Maudu di kalangan etnik Makassar. A’rate berisi pembacaan naskah pujian-pujian kepada Nabi Muhammad Saw yang ditulis oleh Syeh Al-Barzanji dengan mendendang. Meski naskah puji-pujian itu dalam bahasa Arab, cara pembacaan memilik cara tertentu dan hanya orang-orang yang terbiasa membaca naskah Barzanji yang bisa mendendangkannya. Cara mendendangkan seperti orang mengaji dengan suara keras bersama-sama.

Ketika digelar A’rate, bakul-bakul yang disebut Baku Maudu sudah ditaruh pada rumah atau tempat tersendiri yang mirip dengan kerangka perahu beserta layarnya. Bakul atau kadang menggunakan ember berisi beras atau nasi yang sudah dimasak setengah matang beserta telur dan daging ayam goreng kering. Sementara pada bagian atas berisi Songkolo yakni beras ketan yang sudah dimasak.

Bakul atau ember kadang diberi hiasan berupa sarung yang melilit pada bagian luar dari bakul atau ember. Kemudian bagian atasnya digantung telur-telur aneka warna pada kayu sepanjang 30 centimeter yang batangnya sudah dihias dengan kertas warna-warni. Demikian beberapa pengamatan sepintas dari peringatan Maulid atau Maudu yang digelar keluarga besar/keturunan Lata Daeng Laju di Balang, Kecamatan Binamu, Jeneponto pada hari Minggu, 27 Februari 2011 kemarin.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , , , | No Comments »

Robohnya Pohon Pepaya di Pekarangan Rumah Kami

Posted by musliminbeta on 30 Januari 2011

Malam itu menunjukkan pukul 09 malam waktu SWIS (sekitar wilayah Sudiang). Tiba-tiba terdengar keras dari arah depan rumah. Saya yang masih berkutat didepan komputer tidak menghiraukannya. Selang pukul 10 ketika akan beranjak ke pembaringan, saya mengitip keluar melalui jendela kamar depan. Alangkan kagetnya melihat pemandangan itu. Seonggok pohon pepaya yang saya sayangi tiba-tiba roboh. Sementara buahnya yang lebat berhamburan disekitarnya.

Bagi saya, keberadaan pohon pepaya itu sangat berarti. Disamping buahnya enak dikonsumsi untuk kesehatan, buah pepaya itu membantu saya menjalin silaturahmi dengan tetangga. Hampir semua tetangga saya di komplek Graha Sentosa Sudiang, khususnya yang berada di Blok B sudah pernah menikmati lezatnya buah pepaya di pekarangan rumah saya.

Pohon pepaya itu pula yang menjadi pelindung rumah ketika musim kemarau. Meski cabang dan daunnya tidak terlalu lebar, namun setidaknya membantu menghalangi sinar matahari langsung masuk ke rumah saya. Ketika musim kemarau dan PLN memadamkan listrik pada siang hari, pohon pepaya itulah yang menjadi pilihan untuk bernaung dan duduk santai dibawahnya.

Pohon pepaya itu pula menjadi ladang pahala buat saya sekeluarga. Saking lebatnya, banyak tetangga diluar komplek yang sering datang meminta. Mulai dari tetangga yang sedang mengadakan pesta perkawinan hingga untuk konsumsi sayur sehari-hari. Bahkan, tetangga yang kepergok pernah memperhatikan lebatnya buah pepaya tapi malu-malu meminta, langsung saya bawakan kerumahnya selang beberapa waktu kemudian.

Robohnya pohon pepaya itu mendatangkan kesedihan karena kehilangan pohon yang menjadi ladang amal. Namun tak urung juga mendatangkan kegembiraan karena pohon pepaya yang mulai menjulang ke angkasa merebahkan dirinya dikala sunyi. Artinya kejatuhannya tidak membawa korban, bila dibandingkan dengan tetangga yang memiliki pohon pepaya ketika rubuh mengenai pagarnya sehingga sama-sama roboh.

Ajaibnya, pohon pepaya itu merubuhkan dirinya pada tempat yang tepat ke arah kiri pekarangan rumah. Bila pohon itu rubuh ke arah teras rumah, akan mendatangkan pekerjaan tersendiri dan mungkin sedikit kerusakan pada sisi teras. Bila pohon itu rubuh ke arah rumah tetangga di sebelah kanan yang berjarak hanya satu meter dengan pohon itu, mungkin akan menyebabkan sedikit komplain dari tetangga baru itu. Bila pohon itu rubuh ke arah pagar bisa menghalangi jalan komplek, tempat lalu lalang warga komplek.

Mungkin, inilah hikmah memelihara pohon pepaya untuk tujuan yang bermanfaat.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , | No Comments »

Tidur Ditengah Angin Puting Beliung

Posted by musliminbeta on 23 Januari 2011

Akhir pekan yang menyeramkan, begitu kesan saya pada malam minggu 15 Januari 2011 di Jeneponto. Sebagaimana kebanyakan orang Makassar, bangunan rumah tinggal berbentuk rumah panggung lebih dianggap aman dan nyaman. Demikian pula rumah tinggal ibu saya yang perlahan mulai reyok ditelan masa.

Menjelang tidur pada sekitar 10 malam, angin berhembus seperti sediakala. Namun angin mulai menunjukkan intensitas peningkatannya ketika menjelang tengah malam. Istri saya yang tidak biasa dengan bangunan rumah panggung yang berderit-derit dihembus angin, membangun saya. Dia ketakutan mendengar suara angin kencang yang membuat suara atap seng berbunyi nyaring. Selain suara atap seng, kayu-kayu yang sudah empat puluhan tahun menyanggah bangunan rumah pun kerap berbunyi saking kerasnya hembusan angin malam itu.

Hingga menjelang dinihari suara angin tetap kencang dan menyeramkan oleh suara-suara aneh dari desiran angin yang menerjang bagian-bagian rumah panggung yang dibangun sejak 1978 itu. Apalagi suara hujan bertalu-talu tiada hentinya menyertai hembusan angin kencang. Azan subuh di mesjid tidak kedengaran lagi. Mungkin semua orang terlelap atau ketakutan meninggalkan rumahnya.

Ketika pagi mulai datang, saya pun baru mulai membangunkan mata. Hujan masih terdengar deras menghunjam atap seng dengan suara keras. Terdengar suara kaki di balkon rumah membenahi terpal-terpal yang dipasang untuk mencegah tampias hujan ke bagian dalam rumah. Suara terpal sangat khas bunyinya bila dibenahi. Sekitar jam tujuh pagi, hujan deras dan angin kencang mulai mengendur berganti hujan gerimis.

Dari pagi hingga siang hujan tetap turun meski tidak lagi disertai angin kencang. Namun suasana berubah drastic menjelang sore. Angin kencang yang disebut puting beliung itu menerjang keras segala isi bumi di wilayah kampong Balang, Jeneponto. Rupanya bukan hanya dirasakan di Kampung Balang karena hampir semua wilayah pesisir selatan Pulau Sulawesi terkena angin putting beliung itu.

Malam harinya, saya menyaksikan di running text TV One, “52 rumah tinggal rusak di Makassar akibat aingin putting beliung”. Entah berapa rumah tinggal rusak di Jeneponto karena tidak ada laporan resmi dari pemerintah setempat.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , | No Comments »

Daeng Tompo, Bukan Tentara Biasa

Posted by musliminbeta on 23 Januari 2011

Bila melihat sepintas, ukuran badannya tidak menunjukkan sebagaimana tentara pada umumnya yang berbentuk tinggi dan tegap. Meski tergolong kecil, badannya tetap tegak dan senyum sering mengembang dibawah kumisnya. Baru tiga bulan berdinas sebagai anggota Kodim Jeneponto setelah puluhan tahun merantau di kesatuan tentara di Sulawesi Tenggara. Kerabat dekatnya sering memanggilnya Daeng Tompo atau Maupa, anak kedua dari pasangan Laloasa Daeng Longgang dan Nanting Daeng Sugi. Namun nama aslinya di kesatuan tentara adalah Taheya dengan pangkat Pelda atau Pembantu Letnan Dua.

Saya bertemu pada sebuah hajatan pesta pernikahan seorang kerabat pada hari minggu (16 Januari 2011) akhir pekan lalu setelah puluhan tahun tidak pernah ketemu. Struktur wajahnya tidak berubah ketika masih muda dulu meski sudah memiliki cucu. Tutur katanya yang pelan, tidak seperti pada umumnya seorang tentara dengan suara menggelegar. Apalagi minuman keras dan merokok sangat dijauhinya dan menjadi pantangan bagi dirinya.

Dibawah sebuah kolong rumah di Bontosunggu, Daeng Tompo bercerita tentang pengalaman pertamanya mengunjungi Kendari, Sulawesi Tenggara sebagai seorang tentara yang ditugaskan. Sebelumnya Daeng Tompo berdinas pada sebuah kesatuan tentara di Makassar. Suatu hari di tahun 1983, Daeng Tompo pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Kendari setelah melalui penyebrangan Bajoe, Bone. Sebelum menuju Kendari, perjalanan darat dilalui dari Kota Kolaka setelah turun dari kapal fery.

Menggunakan angkutan umum dari Kolaka, Daeng Tompo bersama istrinya yang baru saja dinikahinya berangkat ke Kendari dengan berpakaian sipil sebagaimana pada umumnya. Pada dirinya tidak mengenakan atribut tentara. Rambutnya pun tergolong panjang ketika itu. Bersama dengan penumpang lainnya, Daeng Tompo diminta membayar tarif angkutan umum sebelum berangkat menuju Kendari.

Sesampainya di terminal Kota Kendari datang sekolompok orang berjumlah empat orang menagih tariff dari para penumpang. Daeng Tompo yang masih merasa asing di Kota Kendari merasa heran dengan pengenaan tariff sebanyak dua kali. Rupanya pihak penagih di terminal Kendari itu adalah sekawanan preman penunggu terminal. Para sopir angkitan umum di terminal itu sepertinya tidak mampu melawan sekelompok preman tersebut.

Menyadari bahwa Daeng Tompo beserta istri dan para penumpang lainnya terjebak dalam perlakuan buruk sekelompok preman, Daeng Tompo memilih mengambil sikap dengan melarang semua penumpang membayar tariff kedua kalinya kepada sekelompok preman itu. Sikap Daeng Tompo membuat para preman marah dan salah seorang preman yang memiliki tubuh besar menghampirinya dengan muka marah. Dengan enteng preman berbadan besar itu mengejek Daeng Tompo yang bertubuh kecil dan berani menantang pula. Menyadari gelagak kemarahan sang preman, Daeng Tompo menyuruh istrinya menyingkir ke dalam sebuah warung dan dia bergeser selangkah kebelakang mengambil ancang-ancang.

Preman berbadan besar itu juga langsung mengayunkan pukulan kearah Daeng Tompo. Daeng Tompo menggeser badannya ke samping dan menangkis pukulan sang preman. Dengan gerakan cepat, daeng Tompo memegang tangan lawannya sambil menggerakkan kakinya dengan maksud menjatuhkan sang preman. Badan sang preman kemudian dibenturkan ke arah sebuah angkutan umum yang banyak berjejer di terminal itu. Nampak dikepala sang preman bercucuran darah, namun bangkit lagi hendak menyerang Daeng Tompo. Ketika kembali sang preman menyerang, Daeng Tompo dengan lincah kembali menghindar kesamping dan kembali membanting kearah aspal.

Daeng Tompo kembali menantang sang preman lainnya untuk maju. Rupanya preman yang satu ini telah mempersiapkan sebuah senjata tajam berupa parang panjang. Dengan cepat sang preman menyerang Daeng Tompo. Namun Daeng Tompo tidak kalah sigapnya dan mendahului bergerak kearah tangan kanan yang memegang parang panjang. Setelah memegang lengan lawannya, Daeng Tompo segera membanting ke tanah dan segera merebut parang panjang sang preman. Parang pun berpindah tangan ke Daeng Tompo dan meletakkan ujung parang kearah leher sang preman yang telah tersungkur. Daeng Tompo dengan tatapan tajam menyuruh minta ampun dan tidak mengganggu para penumpang lagi serta angkat kaki dari terminal itu.

Setelah membereskan para preman yang dijulukinya para perampok jalanan itu, para sopir dan penjaga warung yang menonton merasa heran, seorang yang berbadan kecil bisa meruntuhkan para preman yang berbadan besar. Menurut informasi yang diterima Daeng Tompo dari terminal itu, para preman itu sudah berkuasa sejak 15 tahun.

Daeng Tompo mengakhiri ceritanya karena hujan semakin deras. Beberapa jam kemudian, angin puting beliung menyapu jagat di seantero Kota Bontosunggu sehingga mengakibatkan mati lampu hingga malam hari.

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , | No Comments »

Stadion Mattoanging: Riwayatmu Kini

Posted by musliminbeta on 29 Oktober 2010

Kamis sore (28/10/2010), meski cuaca hujan, saya bertekad menyaksikan laga kandang perdana PSM melawan Persisam di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging, Makassar. Sebagai pencinta sepakbola nasional, pertandingan ini saya tunggu-tunggu karena permainan tim PSM pada awal musim kompetisi 2010/2011 dalam empat pertandingan awal bernilai baik.
Saya sebenarnya jarang menonton PSM berlaga di stadion Mattoanging karena kondisi stadion yang tidak nyaman. Namun setelah berita lolosnya verifikasi stadion ini oleh Badan Liga Indonesia, maka saya berharap stadion ini semakin nyaman untuk digunakan rekreasi menonton sepakbola dengan nyaman dan aman seperti halnya menonton Liga Eropa.
Sesampainya di sekitar stadion satu jam sebelum pertandingan, karcis tribun tertutup sudah habis. Saya sedikit kecewa karena harapan menonton laga PSM dengan nyaman sambil menyeruput minuman ringan dan makanan ringan tidak kesampaian. Dengan sedikit terpaksa, saya membeli karcis untuk tribun terbuka dengan harapan masih ada tempat tersisa untuk menyaksikan laga PSM secara langsung.
Namun lagi-lagi harapan tersebut tidak kesampaian. Ketika sampai di pintu stadion, seluruh tempat duduk hingga meluber ke pagar stadion penuh sesak. Saya hanya pasrah menyaksikan PSM berlaga dengan kondisi berdiri selama dua jam. Kembali ke rumah, badan sudah pegal-pegal. Ternyata Stadion Mattoanging tidak pernah berubah kelayakannya bagi penonton seperti saya yang ingin menjadikan kegiatan menonton sepakbola sebagai relaksasi dan rekreasi. Untungnya, ada jagung bakar jadi pelipur lara sambil menyaksikan laga malam itu.
Saya jadi bertanya, apa saja syarat kelayakan sebuah stadion setingkat Liga Super bagi Badan Liga Indonesia? Apakah hanya sekedar menilai kualitas rumput lapangan, ruang istirahat pemain, dan tetek bengek kebutuhan para pemain saja tetapi tidak memperharikan kelayakan dan kenyamanan para penonton? Saya meminta kepada otoritas Badan Liga Indonesia untuk mendiskualifikasi Stadion Mattoanging sebagai tempat pertandingan Liga Super Indonesia agar pemerintah daerah (kota/provinsi) memikirkan untuk membangun stadion yang standar internasional.
Bila Kota Makassar memiliki bandara internasional, lapangan Karebosi yang modern, transstudio kelas dunia, mengapa Kota Makassar tidak memiliki stadion standar internasional? Lebih penting mana membangun Center Point of Indonesia ketimbang Stadion Sepakbola standar Internasional di Kota Makassar?

Posted in Tak Berkategori | Tagged: , , , | No Comments »