Pengalaman Tiga Kali Kecelakaan Lalu Lintas
Posted by musliminbeta on 9 Desember 2011
Sebagai pengendara sepeda motor, saya tidak terlalu banyak memiliki pengalaman sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Bahkan selama ini sepanjang ingatan saya, hanya tiga kali saya mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan kejatuhan dari sepeda motor. Kecelakaan pertama, ketika masih berusia remaja terjadi di Jeneponto, pengalaman kedua ketika tinggal di Jakarta dalam kecelakaan beruntun antar sepeda motor didepan Mall Ambassador dan ketiga di jalan paccerakkang Makassar ketika seorang penjual ayam yang berada didepan saya tiba-tiba menghentikan sepeda motor ditengah jalan.
Dari ketiga pengalaman kecelakaan tersebut, pengalaman pertama karena ngebut di jalan sepi di sebuah jalan desa di Jeneponto tetapi tiba-tiba muncul segerombol anak-anak yang menyeberang jalan. Untuk menghindari korban jatuh, maka saya menjatuhkan diri dari sepeda motor agar tidak menabrak segerombolan anak-anak tersebut. Seandainya anak-anak tersebut jadi korban, maka saya bisa babak belur dihajar massa di kampung itu. Apalagi saya belum surat izim mengemudi sepeda motor ketika itu karena masih berumur dibawah 17 tahun.
Saya tidak mengalami luka-luka pada kejadian kecelakaan sepihak itu. Namun sepeda motor vespa ringsek dan harus masuk bengkel. Meski ringsek, motor vespa tersebut masih bisa saya kendarai kembali hingga ke rumah dan memasukkannya ke bengkel. Dari kejadian tersebut, saya mengambil pelajaran untuk tidak selalu ngebut meski jalan sedang sepi karena bisa saja mendadak sesuatu yang tidak disangka-sangka menghadang jalan.
Pengalaman kedua yang terjadi di Jakarta ketika itu di pagi hari. Jalanan di depan Mall Ambasador tidak seperti biasanya yang macet, tapi pagi itu sangat lancer. Maka saya kembali tancap gas menuju jalan sudirman. Namun seorang pengendara sepeda motor tiba-tiba menghentikan kendaraan untuk menghindari seorang pelintas jalan yang akan menyeberang ke Mall Ambasador. Karena saya kurang menyadari situasi, maka saya tidak bisa menghindar dan menabrak sepeda motor didepan saya. Sedangkan sepeda motor dibelakang saya pun demikian, saling bertabrakan menjadi sebuah tabrakan beruntun pagi itu.
Meski tidak mengalami luka-luka, saya agak terkejut dengan kejadian itu. Ketika pengemudi sepeda motor dibelakang saya komplain ke saya, maka saya spontan menyalahkan pengemudi sepeda motor di depan saya. Akhirnya, semua pengendara sepeda motor mengajukan complain pada pengendara paling depan. Dan saya pun melaju kembali tanpa merasa bersalah karena memang saya adalah bagian dari korban tabrakan beruntun.
Pengalaman ketiga, terjadi di jalan Paccerakkang, Daya, Makassar. Lagi-lagi karena ngebut untuk menjemput salah seorang anak saya dirumah dan berniat akan mengantarnya ke sekolah. Namun tanpa saya duga, seorang pengendara sepeda motor yang membawa dagangannya mendadak menghentikan sepeda motornya di tengah jalan tanpa meminggirkan terlebih dahulu. Sayapun spontan langsung menjatuhkan diri agar tidak menabraknya. Pengendara tersebut selamat dari korban sepeda motor saya, namun saya yang apes karena menderita luka lecet pada jari tangan.
Sebagai manusia biasa, saya langsung memarahi pengendara tersebut yang menghentikan kendaraannya di tengah jalan. Pengendara tersebut beralasan bahwa ada ayam yang tiba-tiba menyeberang dan dia berusaha menghindarinya. Saya pun kesal dengan tindakannya tersebut karena menyebabkan pengedara dibelakangnya menjadi korban. Untungnya pengendara tersebut ikut membantu saya sehingga kemarahan saya pun perlahan reda dan juga dia meminta maaf atas kelakuannya.
Hikmah Dari Pengalaman
Sebenarnya saya relatif beruntun, selama saya berkendara sepeda motor dalam usia 37 tahun hanya tiga kali mengalami kecelakaan lalu lintas. Ketika saya tanyakan kepada seorang keponakan saya yang sedang berstatus mahasiswa, sudah berapa kali mengalami kecelakaan dan jatuh dari sepeda motor? Jawabnya, sudah tidak bisa dihitung.
Dari tiga kali pengalaman tersebut, dua kali kecelakaan karena kesalahan pihak lain sedang sisanya karena kesalahan sendiri. Meski saya akui, ketiga pengalaman kecelakaan disebabkan karena perilaku ngebut yang ingin segera sampai ke tempat tujuan. Dari ketiga kejadian itu pula, saya selalu mengenakan helm standar sehingga kepala saya terhindar dari benturan benda keras.
Hikmah dari ketiga pengalaman itu membuat saya kini selalu hati-hati dalam berkendara, meski hanya di sekitar lingkungan tempat tinggal. Pada jalan sepi sekalipun, tiap kali saya berbelok selalu menyalakan lampu spion untuk berbelok kiri atau kanan untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba muncul kendaraan didepan atau dibelakang sepeda motor saya.
Posted in Tak Berkategori | Tagged: Blogger Makassar, Lomba Blog Polantas, Muslimin Beta | No Comments »







